dametobing93

al ahkam dan al khamsah

Posted on: April 2, 2013

1.    AL AHKAM AL KHAMSAH
    Disebut juga hukum taklifi
    Lima macam kaidah atau lima kategori penilaian mengenai benda dan tingkah laku manusia dalam Islam:
◦    Wajib
◦    Sunnat
◦    Ja’iz atau mubah
◦    Makruh
◦    Haram

1.     WAJIB
wajib adalah suatu perbuatan yang dituntut Allah untuk dilakukan secara tuntutan pasti, yang diberi ganjaran dengan pahala bagi orang yang melakukannya dan diancam dosa bagi orang yang meninggalkannya karena bertentangan dengan kehendak yang menuntut
Wajib dapat dibagi dari beberapa segi ,dan diantaranya adalah dari segi pelaksana atau pihak yang dituntut. Dari segi pihak yang dituntut melaksanakan kewajiban, wajib terbagi dua, yaitu :
a.      Wajib ‘Aini (kewajiban secara pribadi) : sesuatu yang dituntut oleh syar’i (pembuat hukum) untuk melaksankannya dari setiap pribadi dari pribadi mukallaf (subjek hukum).kewajiban itu harus dilaksanakan sendiri dan tidak mungkin dilakukan oleh orang lain atau karena perbuatan orang lain:
Ø  Contoh :1. Shalat 5 Waktu, setiap pribadi atau masing – masing pribadi mukallaf di haruskan melaksanakan ibadah shalat sendiri dengan arti lain tidak mungkin untuk mewakilkannya kepada orang lain, oleh sebab itulah shalat 5 waktu merupakan salah satu perbuatan yang diwajibkan.
b.     Wajib Kafa’i/ Kifayah (kewajiban bersifat kelompok) : sesuatu yang dituntut oleh pembuat hukum melakukannya dari sejumlah mukallaf dan tidak dari setiap pribadi mukallaf. Hal ini bebrarti bila sebagian atau beberapa orang mukallaf telah tampil melaksanakan kewajiban itu dan telah terlaksana apa yang dituntut, maka lepaslah orang lain dari tuntutan itu. Tetapi bila tidak seorangpun melaksanakannya hingga apa yang dituntut itu terlantar, maka berdosa semuanya.
Ø  Contoh :2. Shalat Jenazah, yang mana dalam pelaksanaan shalat jenazah ini tidak semua mukallaf diwajibkan untuk melaksanakannya melainkan diperbolehkan hanya sebagian dari sekumpulan mukallaf. Akan tetapi bila tidak seorangpun melaksanakannya atau mengabaikannya maka semuanya akan mendapat dosa.

2.     SUNNAH
Sunnah adalah sesuatu yang dituntut untuk memperbuatnya secara hukum syar’i tanpa adanya celaan atau dosa terhadap orang yang meninggalkan secara mutlak. Sedang dalam arti dalil hukum mempunyai arti yang sama dengan ini, yaitu sesuatu yang berasal dari Nabi baik dalam bentuk ucapan, perbuatan atau pengakuan.
Sunnah dapat dibagi dari beberapa segi, diantaranya adalah dari segi selalu dan tidaknya Nabi melakukan perbuatan sunnah. Sunnah ini terbagi dua, yaitu :
a.      Sunnah Muakkadah : yaitu perbuatan yang selalu dilakukan oleh Nabi disamping ada keterangan yang menunjukkan bahwa perbuatan itu bukanlah sesuatu yang fardhu.
Ø  Contoh : 1. Shalat Witir, sunnah dalam bentuk ini, karena kuatnya, sebagian ulama’ menyatakan bahwa orang yang meninggalkannya dicela, tetapi tidak berdosa, karena orang yang meninggalkannya secara sengaja berarti menyalahi sunnah yang biasa dilakukan oleh Nabi.
b.     Sunnah Ghairu Muakkad : yaitu perbuatan yang pernah dilakukan oleh Nabi, tetapi Nabi tidak melazimkan dirinya untuk berbuat demikian.
Ø  Contoh :2.  Memberi Sedekah Kepada Orang Miskin, dalam hal ini kita dianjurkan untuk melaksanakannya namun tidak akan berdosa bila tidak melakukannya. Dalam perbuatan seperti ini digunakan kata : nafal, mustahab, ihsan, dan tathawwu’.

3.     HARAM
Ialah suatu perbuatan yang apabila dilakukan akan mendapat siksa atau dosa, dan sebaliknya apabila ditinggalkannya maka akan mendapat ganjaran atau pahala. Prinsipnya, dalam penetapan hukum haram bagi yang dilarang adalah karena adanya sifat memberi mudharat (merusak) dalam perbuatan yang dilarang itu. Allah tidak akan mengharamkan sesuatu kecuali terdapat unsur perusak menurut biasanya. Haram menurut pengertian ini terbagi dua :
a.      Haram Dzati : yaitu sesuatu yang disengaja oleh Allah mengharamkannya karena terdapatunsur perusak yang langsung mengenai dharuriyat yang lima (lima unsur pokok dalam kehidupan manusia muslim).
Ø  Contoh :1.
–        Haramnya membunuh karena langsung mengenai jiwa (nyawa)
–        Haramnya minum khamar karena langsung mengenai akal
–        Haramnya murtad karena langsung mengenai agama
–        Haramnya mencuri karena langsung mengenai harta
–        Haramnya berzina karena langsung mengenai keturunan atau harga diri.
b.     Haram ‘Ardhi / Ghairu Dzati : yaitu haram yang larangannya bukan karena zatnya, artinya tidak langsung mengenai satu diantara dharuriyat yang lima itu, tapi secara tidak langsung akan mengenai hal-hal yang bersifat dzati tersebut.

Ø  Contoh :2
–        melihat aurat perempuan yang akan dapat membawa kepada zina
–        penipuan yang dapat membawa kepada pencurian
–        bercanda dengan ayat-ayat Alqur’an yang dapat membawa kepada murtad. Perbuatan-perbuatan tersebut diharamkan dengan dalil tertentu karena membawa kepada larangan yang bersifat dzati.

4.     MAKRUH
Secara bahasa karahah adalah sesuatu yang tidak disenangi atau sesuatu yang dijauhi, sedang dalam istilah ialah sesuatu yang diberi pahala orang yang meninggalkannya dan tidak diberi dosa orang yang melakukannya.
Ø  Contoh :1. Larangan banyak bertanya dalam surat al-Maidah (5):101:
Artinya : “hai orang-orang yang beriman jangan kamu banyak tanya tentang sesuatu, bila dijelaskan kepadamu akan menyulitkan untukmu”.
Dalam ayat ini Allah melarang seseorang banyak bertanya. Ujung ayat ini menjelaskan akibat banyak bertanya itu terhadap si penanya. Ungkapan ini memberi petunjuk tidak pastinya larangan itu untuk menghasilkan hukum haram, meskipun demikian banyak bertanya itu termasuk perbuatan yang tidak terpuji.
Ø  Contoh :2. Main kartu (seperti domino) bukan untuk tujuan judi. Dari segi main kartu saja hukumnya hanya makruh karena dapat mengganggu ketenangan beribadah. Tetapi bila dilakukan berketerusan sampai meninggalkan perbuatan wajib, maka hukumnya menjadi haram.

5.     MUBAH
Dalam istilah hukum, mubah adalah sesuatu yang diberi kemungkinan oleh pembuat hukum untuk memilih antara memperbuat dan meninggalkan. Ia boleh melakukan atau tidak. Sehubungan dengan pengertian tersebut, Al Syathibi membagi mubah menjadi beberapa macam, diantaranya adalah :
a.      Mubah yang Mengikuti Suruhan Untuk Berbuat : mubah dalam bentuk ini disebut mubah dalam bentuk bagian, tetapi dituntut berbuat secara keseluruhan.
Ø  contoh :1.  Makan dan Kawin, mubah dalam bentuk ini tidak boleh ditinggalkan secara menyeluruh, karena merupakan kebutuhan atau kepentingan pokok manusia.
b.     Mubah yang Mengikuti Tuntutan Untuk Meninggalkan : mubah dalam bentuk ini disebut : “mubah secara juz’i tetapi dilarang secara keseluruhan”.
Ø  Contoh :2.  Bermain, perbuatan ini dalam waktu tertentu hukumnya mubah, tetapi bila dilakukan sepanjang waktu, hukumnya menjadi haram.
2. HUKUM WADH’I
Hukum wadh’i ini tidak harus berhubungan dengan tingkah laku manusia tetapi bisa berbentuk ketentuan-ketentuan yang ada kaitannya dengan perbuatan mukallaf yang dinamakan hukum taklifi, baik hubungan itu dalam bentuk sebab dan yang dinamakan hukum taklifi, baik hubungan itu dalam bentuk sebab dan yang diberi sebab, atau syarat yang diberi syarat atau penghalang yang dikenakan halangan. Dengan demikian, hukum wadh’i itu ada tiga macam, yaitu :
1.     SABAB
Adalah sesuatu yang tampak yang dijadikan tanda adanya hokum (illat) atau keadaan yang mempengaruhi ada atau tidak adanya hukum.
Ø  Contoh :1. Masuknya bulan Ramadhan menjadi pertanda datangnya kewajiban puasa Ramadhan. Masuknya bulan Ramadhan adalah sesuatu yang jelas dan dapat diukur apakah betul bulan Ramadhan itu sudah dating atau belum. Masuknya bulan Ramadhan menjadi sebab, sedangkan datangnya kewajiban puasa Ramadhan disebut musabbab atau hukum

Sifat memabukkan yang terdapat dalam suatu minuman menjadi sebab atau petunjuk bagi hukum haramnya minuman itu. Bila sudah menemukan sifat tersebut pada minuman, maka terdapat hokum haram. Bila pada suatu minuman tidak terdapat sifat tersebut, maka tidak berlaku padanya hukum haram. Dengan demikian sifat memabukkan disebut petunjuk bagi adanya hukum atau sebab bagi hokum. Sedangkan hokum adalah apa yang diberi petunjuk atau disebut musabbab.

2.     SYARAT
Adalah sesuatu yang kepadanya tergantung suatu hukum. Syarat itu terbagi menjadi tiga bentuk :
a.      Syarat ‘Aqli seperti kehidupan menjadi syarat untuk dapat mengetahui. Adanya paham menjadi syarat untuk adanya taklif atau beban hokum.
b.     Syarat ‘Adi, artinya berdasarkan atas kebiasaan yang berlaku.
Ø  Contoh : Bersentuhnya api dengan barang yang dapat terbakar menjadi syarat berlangsungnya kebakaran.
c.      Syarat Syar’i, yaitu syarat berdasarkan penetapan syara’
Ø  Contoh :
–        Sucinya badan menjadi syarat untuk shalat.
–        Nisab menjadi syarat wajibnya zakat

3.     MANI’ (PENGHALANG)
Secara definitif para ahli mengartikan mani’ ialah sesuatu yang dari segi hokum, keberadaannya meniadakan tujuan dimaksud dari sebab atau hokum. Kata amru syari’ disebut dalam definisi menunjukkan bahwa yang menjadi penghalang itu adalah suatu perbuatan hokum yang ditetapkan oleh pembuat hokum sendiri sebagai penghalang, yaitu Hadits Nabi yang mengatakan :
القا تل لا يرث
Si pembunuh tidak berhak mewarisi orang yang dibunuhnya.
Dari definisi diatas terlihat ada dua macam mani’ bila dilihat dari segi sasaran yang dikenai pengaruhnya, yaitu :

a.      Mani’ yang berpengaruh terhadap sebab, dalam arti adanya mani’ mengakibatkan “sebab” tidak dianggap berarti lagi. Dengan tidak berartinya sebab itu dengan sendirinya musabab atau hukum pun tidak akan ada karena dia mengikuti kepada sebab.
Ø  Contoh : maslah utang, keadaan berutang itu menyebabkan kekayaan senisab yang menjadi sebab diwajibkannya zakat tidak lagi diperhatikan. Karenanya kewajiban zakat sebagai musabab dari adanya harta senisab tentu tidak ada lagi. Artinya tidak diwajibkan zakat atas orang yang berhutang meskipun jumlah kekayaannya mencapai nisab.
b.     Mani’ yang berpengaruh terhadap hukum, dalam arti menolak adanya hukum meskipun ada sebab yang mengakibatkan adanya hukum.
Ø  Contoh : keadaan pembunh adalah ayah si korban menghalangi atau menolak berlakunya hukum qishas, meskipun sebab untuk adanya hukum qishas yaitu pembunuhan tetap berlaku dalam kasus ini. Semestinya dengan adanya sebab itu (pembunuh), tentu ada hukumnya (wajib qishas). Namun hukum dalam hal ini tidak ada karena adanya mani’ (si pembunuh adalah ayah dari si korban).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: