dametobing93

TUGAS 2 HK.ISLAM

1. Sejarah à sejak zaman kolonial Belanda, hukum Islam itu telah dipelajari dan menjadi mata kuliah wajib pada perguruan tinggi hukum Belanda. Di zaman kolonial, hukum Islam disebut Mohammedans recht (karena anggapan Muhammad adalah penyebarnya).
Mohammedans recht : Hukum Muhammad
à kekeliruan istilah à tidak tepat karena seolah-olah hukum Islam adalah ciptaan atau ajaran Muhammad.
2. Penduduk à bahwa mayoritas penduduk Indonesia (80%) menganut agama Islam & mereka mengamalkan ketentuan-ketentuan hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari sehingga hukum Islam sangat mewarnai kehidupan mereka.
Contoh : Hukum keluarga à menikah memakai hukum Islam
Hukum waris
Hukum wakaf
Hukum ekonomi Islam
3. Yuridis
Dibagi dua macam :
– Berlaku secara normatif à berlakunya hukum Islam tersebut ditentukan oleh kesadaran atas kuat lemahnya iman umat Islam sendiri, negara tidak turut campur tangan.
Contoh : menyangkut hubungan antara manusia dan tuhan.
– Berlaku secara formal yuridis à hukum Islam berlaku didasarkan atau ditunjuk oleh peraturan perundang-undangan atau ditunjuk oleh peraturan perundang-undangan.
=> menyangkut hubungan antara manusia dengan manusia, ada unsur campur tangan negara.
Contoh :
– Pasal 2 (1) UU no.1 / 1974 à hukum perkawinan Islam
– UU no. 38 / 1999 à hukum niaga / UU pengelolaan zakat
– UU no. 41 / 2004 à wakaf
4. Alasan Konstitusional à merujuk Pasal 29 UUD 1945, yaitu :
a. Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
b. Negara menjamin kemerdekaan tiap – tiap penduduk menjalankan agama dan kepercayaan.
5. Alasan Ilmiah à agama Islam menjadi bahan kajian ilmiah
è orang-orang Barat yang dia memfokuskan diri mempelajari agama Islam disebut kaum orientalis.
Tujuan :
– Awalnya untuk menghancurkan Islam dari dalam ketika perang salib.
– Mengokohkan penjajahan bangsa Barat terhadap bangsa Timur, khususnya yang penduduknya beragama Islam.
contohnya : Hook de Gronde à Aceh.
– Menjalin kerja sama dengan negara-negara Islam termasuk hukum ekonomi Islam (pada zaman sekarang).
2. ciri-ciri hukum Islam
  Merupakan bagian dan bersumber dari agama Islam
  Mempunyai hubungan yang erat dan tidak dapat dipisahkan dari iman atau akidan dan kesusilaan atau akhlak Islam
  Mempunyai dua istilah kunci yakni,
o   Syariat, yang terdiri dari wahyu Allah dan Sunnah Nabi
o   Fiqh adalah pemahaman dan hasil pemahaman manusia tentang syariah
  Terdiri dari dua bidang utama yakni,
  Ibadah, ibada bersifat tertutup karena  telah sempurna
  Muamalah dalam arti khusus, muamalah dalam arti khhusus dan luas bersifat terbuka untuk dikembangkan oleh manusia yang memenuhi syarat dari masa ke masa
  Struktur berlapis, terdiri dari
  Nas atau teks Al-Qur’an
  Sunnah Nabi Muhammad (untuk syariat)
  Hasil ijtihad manusia yang memenuhi syarat tentang wahyu dan sunnah
  Pelaksanaannya dalam praktik baik berupa keputusan hakim maupun amalan-amalan umat Islam dalam masyarakat (untuk fiqh)
  Mendahulukan kewajiban dari hak, amal dari pahala
  Dapat dibagi menjadi
  hukum taklifi atau hukum taklif, yakni al-khamsah yang terdiri dari lima kaidah, lima jenis hukum, lima kategori hukum, lima penggolongan hukum yakni, Jaiz,sunnah, makruh, wajib, dan haram
  hukum wadhi, yang mengandung sebab syarat, halangan, terjadi atau terwujudnya hubungan hukum
  berwatak universal, berlaku abadi untuk umat islam dimanapun mereka berada, tidak terbatas pada umat islam disuatu tempat atau negara pada suatu saja
 menghormati martabat manusia sebagai kesatuan jiwa dan raga, rohani dan jasmani serta memelihara kemuliaan manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan
 pelaksanaannya dalam praktik digerakan oleh Iman (akidah) dan akhlak umat islam.

3. kerangka dasar agama Islam
AKIDAH
Dalam konteks ajaran Islam , akidah Islam dapat di definisikan sebagai pemikiran tentang adanya Allah swt, malaikat, kitab, rasul, Hari Kiamat, Qadha’ danQadar dimana baik dan buruk semata-mata karena Allah yang diyakini oleh qalbu danditerima oleh akal, sehingga menjadi pembenaran (keyakinan) yang bulat sesuaidengan realitas dan bersumber pada dalil. Oleh karena itu,akidah selalu ditautkandengan Rukun Iman yang merupakan asas seluruh ajaran Islam.
SYARIAH
Syariah islam adalah ajaran yang mengatur perilaku seorang pemeluk agamaislam (muslim)Untuk meyelesaikan  dan memutuskan masalah manusia yang mencakup hubungan manusia dengan dirinya sendiri, manusia denganlingkungannya,manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan Allah

3.AKHLAK
Akhlak adalah sikap yang menimbulkan perilaku baik dan buruk. Berasal darikata khuluk yang berarti perangai,sikap,perilaku,watak,budi pekerti. Ilmu akhlak adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk pada sikap dan perilaku manusiaserta segala sesuatu yang berkenaan dengan sikap dan perbuatan yang seyogyanyadiperlihatkan manusia terhadap manusia lain, dirinya sendiri dan lingkunganhidupnya.Sumber akhlak Islam adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Akidah, syariah danakhlak merupakan tiga hal yang tidak dapat dipisahkan dan dalam prakteknyaketiganya menyatu secara utuh dalam pribadi seorang muslim. Akidah digambarkansebagai akar yang menunjang kokoh dan tegaknya batang di atas permukaan bumi,sedangkan syariah sebagai batang yang berdiri kokoh di atas akar yangmenunjangnya dan akhlak adalah buah yang dihasilkan dari proses yang berlangsungdi akar dan di batang.

4.  sifat hukum dalam Al Ahkam Al Khamsah
WAJIB
wajib adalah suatu perbuatan yang dituntut Allah untuk dilakukan secara tuntutan pasti, yang diberi ganjaran dengan pahala bagi orang yang melakukannya dan diancam dosa bagi orang yang meninggalkannya karena bertentangan dengan kehendak yang menuntut
Wajib dapat dibagi dari beberapa segi ,dan diantaranya adalah dari segi pelaksana atau pihak yang dituntut. Dari segi pihak yang dituntut melaksanakan kewajiban, wajib terbagi dua, yaitu :
a.      Wajib ‘Aini (kewajiban secara pribadi) : sesuatu yang dituntut oleh syar’i (pembuat hukum) untuk melaksankannya dari setiap pribadi dari pribadi mukallaf (subjek hukum).kewajiban itu harus dilaksanakan sendiri dan tidak mungkin dilakukan oleh orang lain atau karena perbuatan orang lain
b.     Wajib Kafa’i/ Kifayah (kewajiban bersifat kelompok) : sesuatu yang dituntut oleh pembuat hukum melakukannya dari sejumlah mukallaf dan tidak dari setiap pribadi mukallaf. Hal ini bebrarti bila sebagian atau beberapa orang mukallaf telah tampil melaksanakan kewajiban itu dan telah terlaksana apa yang dituntut, maka lepaslah orang lain dari tuntutan itu. Tetapi bila tidak seorangpun melaksanakannya hingga apa yang dituntut itu terlantar, maka berdosa semuanya.
.

SUNNAH
Sunnah adalah sesuatu yang dituntut untuk memperbuatnya secara hukum syar’i tanpa adanya celaan atau dosa terhadap orang yang meninggalkan secara mutlak. Sedang dalam arti dalil hukum mempunyai arti yang sama dengan ini, yaitu sesuatu yang berasal dari Nabi baik dalam bentuk ucapan, perbuatan atau pengakuan.
Sunnah dapat dibagi dari beberapa segi, diantaranya adalah dari segi selalu dan tidaknya Nabi melakukan perbuatan sunnah. Sunnah ini terbagi dua, yaitu
a.      Sunnah Muakkadah : yaitu perbuatan yang selalu dilakukan oleh Nabi disamping ada keterangan yang menunjukkan bahwa perbuatan itu bukanlah sesuatu yang fardhu.
b.     Sunnah Ghairu Muakkad : yaitu perbuatan yang pernah dilakukan oleh Nabi, tetapi Nabi tidak melazimkan dirinya untuk berbuat demikian.

HARAM
Ialah suatu perbuatan yang apabila dilakukan akan mendapat siksa atau dosa, dan sebaliknya apabila ditinggalkannya maka akan mendapat ganjaran atau pahala. Prinsipnya, dalam penetapan hukum haram bagi yang dilarang adalah karena adanya sifat memberi mudharat (merusak) dalam perbuatan yang dilarang itu. Allah tidak akan mengharamkan sesuatu kecuali terdapat unsur perusak menurut biasanya. Haram menurut pengertian ini terbagi dua :
a.      Haram Dzati : yaitu sesuatu yang disengaja oleh Allah mengharamkannya karena terdapatunsur perusak yang langsung mengenai dharuriyat yang lima (lima unsur pokok dalam kehidupan manusia muslim).
b.     Haram ‘Ardhi / Ghairu Dzati : yaitu haram yang larangannya bukan karena zatnya, artinya tidak langsung mengenai satu diantara dharuriyat yang lima itu, tapi secara tidak langsung akan mengenai hal-hal yang bersifat dzati tersebut.

MAKRUH
Secara bahasa karahah adalah sesuatu yang tidak disenangi atau sesuatu yang dijauhi, sedang dalam istilah ialah sesuatu yang diberi pahala orang yang meninggalkannya dan tidak diberi dosa orang yang melakukannya.

MUBAH
Dalam istilah hukum, mubah adalah sesuatu yang diberi kemungkinan oleh pembuat hukum untuk memilih antara memperbuat dan meninggalkan. Ia boleh melakukan atau tidak. Sehubungan dengan pengertian tersebut, Al Syathibi membagi mubah menjadi beberapa macam, diantaranya adalah
a.      Mubah yang Mengikuti Suruhan Untuk Berbuat : mubah dalam bentuk ini disebut mubah dalam bentuk bagian, tetapi dituntut berbuat secara keseluruhan.
b.     Mubah yang Mengikuti Tuntutan Untuk Meninggalkan : mubah dalam bentuk ini disebut : “mubah secara juz’i tetapi dilarang secara keseluruhan”.

5. Dasar dari sumber hukum Islam

(1.) Al-Qur’an
(2.) As-sunnah (Al-Hadits)
(3.) Akal pikiran (ra’yu) manusia yang memenuhi syarat untuk berijtihad karena pengetahuan dan pengalamannya, dengan mempergunakan berbagai jalan (metode) atau cara, ‘diantaranya’ adalah
–          Ijma’
–          Qiyas
–          Istidal
–          Al-masalih Al-mursalah
–          Istihsan
–          Istishab
–          ‘Urf
1.    Al-Qur’an
Alquran adalah sumber hukum islam pertama dan utama. Alquran adalah kitab suci yang memuat wahyu (firman) Allah, Tuhan Yang Maha Esa, asli seperti yang disampaikan oleh malaikat jibril kepada Nabi Muhammad sebagai rasul-Nya sedikit demi sedikit selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, mula-mula di Makkah kemudian kemudian di Madinah untuk menjadi pedoman atau petunjuk bagi umat manusia dalam hidup dan kehidupannya mencapai kesejahteraan didunia ini dan kebahagiaan di akhirat kelak.
Sayyid Husein Nasr berkata : “ sebagai pedoman abadi, Al-Qur’an mempunyai tiga petunjuk bagi manusia:
–          Pertama, adalah ajaran yang memeberi pengetahuan tentang struktur susunan kenyataan alam semesta dan posisi berbagai makhluk, termasuk manusia, serta benda di jagad raya dan berisi petunjuk tentang iman atau keyakinan, syariat atau hukum, akhlak atau moral yang perlu dipedomani manusia dalam kehidupan sehari-hari.
–          Kedua, Al-qur’an berisi petunjuk  yang menyerupai sejarah manusia, rakyat biasa, raja-raja, orang-orang suci, para nabi, sepanjang zaman dan segala cobaan yang menimpa mereka.
–          Ketiga, Al-qur’an berisi sesuatu yang sulit untuk dijelaskan dalam bahasa biasa. Ayat-ayat Al-Qur’an, karena berasal dari firma Allah, mengandung kekeuatan berbeda dari apa yang dapat kita pelajari secara rasional.
Menurut para Ahli, pada garis-garis besarnya Al-Qur’an memuat soal-soal yang berkenaan dengan
(1)  Akidah
(2)  Syariah
(a)  Ibadah
(b)  Muamalah
(3)  Akhlak dalam semua ruang lingkupnya
(4)  Kisah-kisah umat manusia di masa lalu
(5)  Berita-berita tentang zaman yang akan datang (kehidupan akhirat)
(6)  Benih atau prinsip-prinsip ilmu pengetahuan, dasar-dasar hukum atau hukum-hukum dasar yang berlaku bagi alam semesta, termasuk manusia didalamnya
2.    As-sunnah atau Al-hadits
As-Sunnah atau Al- Hadits adalah sumber hukum islam kedua setelah Al-Qur’an, berupa perkataan (sunnah Qauliyah), perbuatan (sunnah Fi’liyah) dan sikap diam (sunnah taqririyah atau sunnah sukutiyah). Hadits Qudsi adalah ucapan-ucapan nabi yang didalamnya Allah berbicara melalui nabi, namun tidak menjadi bagian dari Al-Qur’an.

6. Tiga petunjuk bagi manusia yang tertuang di dalam Al Quran menurut Sayyid Husein Nasr

Pertama, adl ajaran yg memberi pengetahuan ttg berbagai hal baik jagat raya maupun makhluk yg mendiaminya, termasuk ajaran ttg keyakinan atau iman, hukum atau syariat, dan moral atau akhlak.

Kedua, Al Quran berisi sejarah atau kisah-kisah manusia zaman dl termasuk kejadian para Nabi, dan berisi pula ttg petunjuk di hari kemudian atau akhirat.

Ketiga, Al Quran berisi pula sesuatu yg sulit dijelaskan dgn bahasa biasa karena mengandung sst yg berbeda dgn yg kita pelajari secara rasional.

7. Hukum-hukum yang ada di dalam Al Quran
1. Hukum-Hukum I’tiqodiyyah
Hukum-hukum I’tiqodiyyah adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah aqidah atau keyakinan seperti keimanan kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, dan hari akhir
2. Hukum Akhlaq dan Perilaku
Hukum-hukum ini adalah hukum yang berkaitan dengan metode penggemblengan dan pembersihan jiwa, seperti hukum-hukum yang membahas amalan hati, akhlaq mulia contohnya rasa takut, cinta, harap, jujur, syukur,  berbakti kepada orang tua, silaturahmi, sabar, memaafkan sesame, mendamaikan pihak yang berselisih, tidak menganggu orang lain, menepati janji, dan yang lainnya.
3. Hukum-Hukum Amaliah
Hukum ini adalah hukum yang pembahasannya berkaitan dengan perbuatan mukallaf (orang yang baligh dan berakal). Dan hukum ini dibagi menjadi 2 jenis.
a. Hukum Ibadah yaitu hukum yang membahas segala sesuatu yang menghubungkan antara manusia dan Tuhannya semisal hukum sholat, zakat, puasa, haji. Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili Hafidzhahullahu ta’ala mengatakan ibadah adalah segala sesuatu yang dilakukan dengan tujuan utama mengharapkan pahala dari Allah ta’ala
b. Hukum Muamalah adalah istilah yang digunakan untuk menyebut segala sesuatu selain ibadah, dan yang dimaksud muamalah adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan pengaturan hubungan antara individu dan kelompok. Seperti hukum pidana, jual beli, nikah, talak, politik islam. Dikatakan juga oleh Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili Hafidzhahullahu ta’ala bahwa muamalah adalah segala bentuk perbuatan yang dilakukan dengan tujuan utama untuk mendapatkan perkara dunia
Penamaan hal tersebut dengan  muamalah oleh para ulama tidak berarti bahwa didalamnya tidak terkandung makna ibadah, bahkan jika perbuatan-perbuatan diatas dilakukan sesuai dengan aturan islam dan diniatkan dengan niat yang benar maka perkara tersebut juga merupakan ibadah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu, Ibadah adalah sebuah nama yang didalamnya tercakup seluruh perkara yang Allah cintai dan ridhoi.

8. perbedaan hukum yang ada di dalam Al Quran dengan hukum Barat

Hukum Barat

Hukum barat terbagi dalam dua bagian, yaitu :
•    Sistem hukum Eropa Kontinental

Sistem hukum Eropa Kontinental adalah suatu sistem hukum dengan ciri-ciri adanya berbagai ketentuan-ketentuan hukum dikodifikasi (dihimpun) secara sistematis yang akan ditafsirkan lebih lanjut oleh hakim dalam penerapannya. Hampir 60% dari populasi dunia tinggal di negara yang menganut sistem hukum ini.

•    Sistem hukum Anglo-Saxon

Sistem Anglo-Saxon adalah suatu sistem hukum yang didasarkan pada yurisprudensi, yaitu keputusan-keputusan hakim terdahulu yang kemudian menjadi dasar putusan hakim-hakim selanjutnya. Sistem hukum ini diterapkan di Irlandia, Inggris, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Kanada (kecuali Provinsi Quebec) dan Amerika Serikat (walaupun negara bagian Louisiana mempergunakan sistem hukum ini bersamaan dengan sistim hukum Eropa Kontinental Napoleon). Selain negara-negara tersebut, beberapa negara lain juga menerapkan sistem hukum Anglo-Saxon campuran, misalnya Pakistan, India dan Nigeria yang menerapkan sebagian besar sistem hukum Anglo-Saxon, namun juga memberlakukan hukum adat dan hukum agama.

Sistem hukum anglo saxon, sebenarnya penerapannya lebih mudah terutama pada masyarakat pada negara-negara berkembang karena sesuai dengan perkembangan zaman.Pendapat para ahli dan prakitisi hukum lebih menonjol digunakan oleh hakim, dalam memutus perkara

Hukum Islam

Hukum Islam adalah hukum yang bersumber pada al-quran, hadits, ijma, dan qiyas
Sumber-sumber Hukum Islam ialah :

•    Al-Qur’an

Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia hingga akhir zaman (Saba’ QS 34:28). Sebagai sumber Ajaran Islam juga disebut sumber pertama atau Asas Pertama Syara’.
Al-Quran merupakan kitab suci terakhir yang turun dari serangkaian kitab suci lainnya yang pernah diturunkan ke dunia
Dalam upaya memahami isi Al Quran dari waktu ke waktu telah berkembang tafsiran tentang isi-isi Al-Qur’an namun tidak ada yang saling bertentangan.

•    Hadits

Hadits adalah seluruh perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi Muhammad yang kemudian dijadikan sumber hukum. Fungsi hadits antara lain
Mempertegas hukum dalam Al-Qur’an
Memperjelas hukum dalam Al-Qur’an
Menetapkan hukum yang belum ada di Al-Qur’an

•    Ijtihad

Ijtihad adalah sebuah usaha untuk menetapkan hukum Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis. Ijtihad dilakukan setelah Nabi Muhammad telah wafat sehingga tidak bisa langsung menanyakan pada beliau tentang suatu hukum namun hal-hal ibadah tidak bisa diijtihadkan. Beberapa macam ijtihad antara lain
Ijma’, kesepakatan para ulama
Qiyas, diumpamakan dengan suatu hal yang mirip dan sudah jelas hukumnya
Maslahah Mursalah, untuk kemaslahatan umat
‘Urf, kebiasaan

9. pembagian ayat dalam Al Quran menurut Ali Imran dan mengenai sifat teks Al Quran
Ayat-ayat Al-Qur’an sesuai penjelasan Allah dalam Surat Ali Imran ayat dua- terbagi menjadi dua kelompok :
1) Ayat Muhkamat, yaitu ayat yang maknanya sangat jelas dan gamblang. Hanya mengandung satu penafsiran saja. Dan mayoritas ayat-ayat Al-Qur’an adalah ayat Muhkamat.
Contohnya : ayat “Qul Huwallahu Ahad” (Katakan, Allah itu satu).
Makna ayat ini sangat jelas dan gamblang. Hanya ada satu penafsiran, yaitu keesaan Allah.
2) Ayat Mutasyabihat, yaitu ayat yang mengandung banyak penafsiran, karena kejelasan maknanya tidak akan nampak kecuali jika ayat tersebut dikaitkan dan dihubungkan dengan ayat-ayat Muhkamat atau dengan penjelasan Nabi Muhammad sendiri.
Jumlah ayat Mutasyabihat sedikit, tidak banyak. Namun, para musuh-musuh Islam menggunakan ayat-ayat ini sebagai celah untuk memasukkan ajaran-ajaran Palsu ke dalam agama Islam.
Dalam memuluskan kesesatan dan ajaran Palsu, mereka mengatakan, “Ajaran kami ada dalilnya di dalam Al-Qur’an, ayat ini dan ayat itu.” Padahal, sebenarnya mereka tidak berdalil dengan teks ayat tersebut, melainkan mereka hanya berdalil dengan penafsiran mereka terhadap ayat tersebut. Sedangkan, penafsiran mereka itu hanyalah salah satu dari sekian banyak penafsiran terhadap ayat tersebut.
Tafsir adalah ilmu untuk memahami ayat-ayat Allah dalam al-Qur’an berdasarkan kadar intelektual manusia (bi qadri taqati basyariyah). Ada dua ‘gerak’ yang menjadi orientasi tafsir. Pertama, tafsir pada umumnya berangkat dari teks al-Qur’an. Ada teks al-Qur’an kemudian ditafsirkan dengan menggunakan beragam perangkat dan gaya. Tak jarang juga kemudian dikontekstualisasikan dengan wacana yang berkembang saat itu. Gerak ini jamak dijumpai di kitab-kitab tafsir periode klasik, pertengahan bahkan juga kontemporer.
Kedua, tafsir yang berangkat dari realitas, kemudian baru merujuk pada teks al-Qur’an. Gerak ini terjadi akhir-akhir ini beriringan dengan banyaknya persoalan yang muncul. Misalnya, dalam realitas terjadi poligami, orang ramai-ramai merujuk ayat-ayat poligami dan menafsirkannnya. Terbitlah buku-buku kecil tentang tafsir poligami. Realitas ribut dengan isu pluralisme, multikulturalisme dan liberalisme, orang ramai-ramai mencari-cari ayat tentang isu-isu tersebut, dan seterusnya dan seterusnya.  Di sinilah terjadi  Shifting Paradigm (pergeseran paradigma). Pergerseran dari “teks ke realitas” ke “realitas ke teks”.
10. Jelaskan pengertian sumber hukum Islam berupa As Sunnah
as -Sunnah adalah menjelaskan dan menerangkan hal-hal yang telah ada dalam al-Qur’anul Karim. Karena al-Qur’an – sebagaimana telah kita katakan – menetapkan kewajiban shalat secara garis besar saja, maka datanglah as-Sunnah menerangkan secara rinci cara-cara shalat, baik yang berupa ucapan-ucapan maupun perbuatan-perbuatan
11. Jelaskan dasar hukum As Sunnah sebagai sumber hukum Islam
As-Sunnah atau yang juga dikenal dengan sebutan al-Hadits merupakan dasar pijakan hukum bagi umat islam setelah Al-Qur’an, dan wajib bagi seluruh umat islam untuk berhukum kepada As-Sunnah tersebut. Kenapa As-Sunnah dijadikan landasan hukum bagi umat Islam di dalam bermuamalah dan beribadah, karena pada dasarnya As-Sunnah itu didalamnya mengandung segala bentuk perintah, larangan, contoh perbuatan dan teladan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam yang wajib untuk dita’ati serta diikuti dan diteladani.
12.  Jelaskan dasar pembagian kategori As Sunnah
memfokuskan sunnah dalam kategori mengikuti segala perbuatan nabi baik ibadah atau kesehariannya.
Adapun sunnah di dalam ilmuUshul Fiqh terbagi kepada 3 bagian yaitu:
1. sunnah muakkadah
2. sunnah ghairu muakkadah
3. sunnah zaaidah.
1. sunnah muakadah adalah sunnah yang di kuatkan atau sunnah yang disangat dianjurkan untuk dilakukan, tetapi walaupun tidak dikerjakan it’s ok tidak mendapatkan Dosa dari Allah SWT.
contoh dari sunnah muakkad salah satunya adalah Sholat sunnah 2 rokaat sebelum sholat subuh.
2. sunnah ghairu muakkadah adalah sunnah atau amal ibadah sunnah yang berstatus sunnah di kerjakan dan tidak mendapatkan dosa jika tidak di kerjakan, tetapi untuk ibadah sunnah ini penganjurannya tidak sekuat sunnah muakkad yang telah kita bahas diatas.
contoh dari ibadah sunnah ghairu muakkadah adalah sholat sunnah rowatib yang lebih terkenalnya dengan sebutan sholat sunnah qobliyah ba’diyah yang dilaksankan sebelum dan sesudah sholat fardhu sholat wajib yang 5 waktu.
3. sunnah zaaidah adalh sunnah tambahan atau supaya lebih mudah difahami kita sebut aja dia adalah sunnah untuk mengikuti segala keseharian nabi dari makan, minum, tidur, buang air, berpakaian dan lainnya. ibadah sunnah zaaidah ini akan bernilai pahala bagi orang yang tau dan berniat untuk mengikuti sunnah keseharian nabi Muhammad, tapi jika tidak diniatkan, yaaa sama saja seperti kita mengerjakan keseharian kita.
oleh karena itu betapa pentingnya ilmu, jika kita tau ilmunya kita dapat pahala dengan disertai niat ittiba’/mengikuti nabi Muhammad. jika ga tau ilmunya?? yaaaa belajarlah hahaha itu harus, apalagi ilmu agama.
sekedar tambahan sobat, bahwa ilmu itu ada 2 macam:
1. ilmu ‘aini adalah ilmu yang harus diketahui dan dikuasai plus diterapkan didalam kehidupan sehari hari, ilmu ini adalah ilmu agama: fiqh, hadis, tafsir. minimal kita tau ilmu dasarnya tentang pekerjaan kita yang sering kita lakukan.jadi setiap orang yang muslim kudu bin harus tau ilmu ini.
2. ilmu kifaai adalh ilmu yang lebih mencakup tentang kehidupan didunia atau ilmu yang lebih fokus kepada masalah duniawi, misalnya: fisika, kimia, biologi dan yang lainnya. ilmu tidak diwajibkan kepada setiap orang, tapi jika salah seorang dari kelompok kaum muslimin sudah belajar ilmu tersebut, maka jatuhlah hukum wajibnya. jadi kita ga dapet dosa. tapi kalau untuk ilmu ‘aini itu wajib dipelajari oleh setiap orang islam.

13  Dasar hukum ar ra’yu
ar-Ra’yu tanpa menentukan batas-batasnya dan dasar-dasar penggunaannya, tanpa menentukan norma-norma Ra’yu yang shahih dan yang tidak shahih.
Imam Syafi’i membuat kaedah kaedah yang harus dipegangi dalam menentukan mana ra’yu yang shahih dan yang tidak shahih. Ia membuat kriteria bagi istinbath-istinbath yang salah. Ia menentukan batas-batas qiyas, martabat-martabatnya, dan kekutan hukum yang ditetapkan dengan qiyas. Juga diterangkan syarat-syarat yang harus sempurna pada qiyas. Sesudah itu diterangkan pula perbedaan antara qiyas dengan macam-macam istinbath yang lain yang dipandang, kecuali qiyas. Dengan demikian Imam Syafi’i adalah orang pertama dalam
menerangkan hakekat qiyas. Imam Syafi’i sendiri tidak membuat ta’rif qiyas. Akan tetapi penjelasan penjelasannya, contoh-contoh, bagian-bagian dan syarat-syarat menjelaskan hakekat qiyas, yang kemudian dibuat ta’rifnya oleh ulama’ ushul.
Biarpun ulama’ ushul berbeda pendapat dalam merumuskan definisi qias, namun secara implisit mereka mempunyai kesepakatan terhadap rukun rukun qiyas. Hal ini karena definisi yang berbeda tersebut tetap menekankan pada empat unsur pembentuk qiyas, yaitu kasus yang ditetapkan oleh nash (ashl), kasus yang baru akan ditentukan hukumnya (far’u), sebab hkum (‘illat), dan hukum yang telah ditentukan oleh nash (hukm ashl). Ulama’ ushul kemudian memberikan syarat syarat terhadap masing masing unsur qiyas tersebut.
14.  Pengelompokan ar ra’yu

15.  Metode ijtihad dan contoh
ISTIHSAN
Istihsan menurt bahasa adalah menganggap baik terhadap sesuatu.Sedangkan menurut istilah meninggalkan qiyas jali (jelas) untuk berpindah kepada qiyas khafi (samar-samar) atau dari hukum kulli (umum) kepada hukum juz’i atau istisna’i (pengecualian) karena ada dalil yang membenarkan perpindahan itu.
2. Kehujahan Istihsan (kedudukan Istihsan sebagai sumber hukum Islam)
a. Golongan Syafiyah menolak istihsan karena berhujah dengan istihsan dianggap menetapkan suatu hukum tanpa dasar yang kuat, semata-mata hanya didasarkan pada hawa nafsunya.
b. Golongan Hanafiyah membolehkan berhujah dengan istihsan dengan pertimbangan istihsan merupakan usaha melakukan qiyas khafi dengan mengalahkan qiyas jali atau menguatkan dalil yang istisna’i daripada yang kulli. Hal ini semata-mata untuk mendapatkan kemaslahatan.
ISTISHAB
Mengambil hak yang sudah ditetapkan masa lalu dan tetap digunakan sampai sekarang selama belum ada sumber hukum yang menetapkan.
Contoh :
Seseorang yang ragu-ragu apakah ia sudah berwudhu atau belum, maka dalam hal ini ia harus berpegang pada ketentuan hukum asal yaitu belum berwudhu
2. Kehujahan Istishab (kedudukannya Sebagai Sumber Hukum Islam)
a. Ulama Syafiyah, Hambaliyah, Malikiyah, Dzariyah, dan sebagian kecil ulama Hanafiyah dan Syiah membolehkan selama belum ada ketentuan hukumnya baik Al-Quran, Hadits, dan Ijmak
b. Kebanyakan ulama Hanafiyah menolak istishab sebagai pegangan hukum.
MASHALIHUL MURSALAH
1. Pengertian Mashalihul Mursalah
Mashalih menurut bahasa adalah kemaslahatan, mursalah artinya terlepas. Dengan demikian Mashalihul mursalah artinya kemaslahatan yang terlepas.
2. Kehujahan (kedudukan Mashalihul Mursalah sebagai Sumber Hukum Islam)
a. Jumhur Ulama menolak mashalih sebagai sumber hukum dengan alasan
1. Dengan nash-nash yang ada dan dengan cara qiyas yang benar, syarak senantiasa mampu merespon masalh yang muncul demi kemaslahatan manusia.
2. Apabila diperbolehkan akan melahirkan perbedaan hukum akibat perbedaan wilayah, negara, bahkan pendapat perorangan dalam suatu perkara, karena adanya perbedaan dalam masyarakat.
b. Imam Malik membolehkan secara mutlak dengan alasan
1. Setiap hukum selalu mengandung kemaslahatan bagi manusia dan kemaslahatan akan dipengaruhi oleh faktor tempat, zaman, waktu dan lingkungan hidupnya.
2. Para sahabat, tabiin, dan para mujtahid banyak yang menetapkan hukum untuk mewujudkan kemaslahatan karena tidak ada petunjuk dari syarak.
c. Imam Syafi’i membolehkan berpegang kepada mashalihul mursalah dengan syarat harus sesuai dengan dalil kulli atau dalil juz’i dari syarak
Syarat-syarat mashalihul mursalah :
1. Mashalihul mursalah hanya berlaku dalam masalah muamalah dan adat kebiasaan bukan dalam hal aqidah
2. Mashlahah harus jelas dan pasti bukan hanya berdasrkan prasangka.
Hukumyang ditetapkan berdasarkan maslahat itu tidak bertentangan dengan syari’at yang ditentukan ijmak atau nash.
‘URF
1. Pengertian ‘Urf
Menurut bahasa, ‘urf berarti baik.sedangkan menurut istilah, ‘urf adalah sesuatu yang sudah dikenal dan dijalankan oleh suatu masyarakat secara turun temurun dan sudah menjadi adat istiadat, baik yang berupa perkatan (qauli) maupun perbuatan (amali).
2. Macam-macam ‘urf
a. ‘Urf shahih (benar) adalah kebiasaan yang berlaku ditengah-tengah masyarakat yang tidak bertentangan dengan nash (Alqur’an dan As sunah) dan tidak menghilangkan kemaslahatan serta tidak mendatangkan madharat.
b. ‘Urf fasid (rusak), adalh kebiasaan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang bertentangan dengan dalil syarak.
3. Pandangan Ulama Mengenai ’urf Shahih dan Fasid
a. ‘Urf Shahih, diperbolehkan dan perlu dilestarikan karena membawa kemaslahatan dan tidak bertentangan dengan syarak.
‘Urf fasid, harus diberantas dan dihilangkan sebab bertentangan dengan dalil syarak dan membawa dampak negatif bagi masyarakat
16. Asas umum hukum Islam dan asas hukum pidana
Asas-Asas Umum Hukum Islam
1. Asas Keadilan ( Q.IV: 135, Q.V: 8, Q.XXXVIII: 26 )
Disebutkan lebih dari 1000x di alqur’an
contohnya adalah QS Annisa ayat 135 : Tuhan memerintahak kepada manusia agar menegakkan keadilan, menjadi saksi yang adil walaupun terhadap diri sendiri, orangtua dan keluarga dekat.
2. Asas Kepastian Hukum ( Q.XVII: 15 )
Contoh QS Bani Israil ayat 15 .. ‘dan tidaklah Kami menjatuhi hukuman, kecuali setelah Kami mengutus seorang rasul dan menjelaskan (aturan dna ancaman) hukuman itu
3. Asas Kemanfaatan ( QII:178 )
penerapan asas keadilan dan kepastian hukum mempertimbangkan asas kemanfaatan
ASAS-ASAS DALAM HUKUM PIDANA
1. Asas Legalitas
tidak ada pelanggaran dan tidak ada hukuman sebelum ada undang-undang yang mengaturnya. (Q.XVII:15, Q.VI:19)
contoh QS Al An’am ayat 6 ..’ Alqur’an ini diwahyukan kepadaku, agar (dengannya) aku (muhammad) dapat menyampaiakan peringatan (dalam bentuk aturan dan ancaman hukuman) kepadamu’
2. Asas Larangan memindahkan kesalahan pada orang lain
Orang tidak dapat diminta memikul tanggung jawab mengenai kejahatan atau kesalahan yang dilakukan orang lain (Q.VI:164, Q.XXXV:18, Q. LIII:38)
Contoh dalam Qur’an Surat Al An’am ayat 6 Allah menyatakan bahwa setiap pribadi yang melakukan kejahatan akan mendapatkan balasan kejahatan yang dilakuakannya
3. Asas Praduga tidak bersalah
seseorang yang dituduh melakukan kejahatan harus dianggap tidak bersalah sebelum hakim menyatakan dengan tegas orang itu bersalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: